Rabu, 11 April 2018

Sinrili

SINRILI

                Sinrili adalah suatu bentuk kesenian tutur yang sangat populer di kalangan orang Makassar, yang di maksud disini adalah suatu cerita yang tersusun rapi, dengan bahasa yang berirama, tersusun secara puitis biasanya dilakukan oleh ahlinya, yakni seorang pasinrili dan diiringi dengan sebuah instrumen gesek yang disebut kesok-kesok atau kerek-kerek gallang (rebab) lantunan irama lagu membawakan rangkaian ceritera yang tersusun baik, seorang pasinrili mampu membawakan sebuah cerita sepanjang malam dengan penuh imaginer, membuat orang terpukau karena tingkah pasinrili.
                Kemampuan dan keberhasilan seorang pelakon atau pasinrili, didukung oleh unsur cerita menarik, dalang itu sendiri serta alat yang digunakan pemain musik mampu menghanyutkan dan membuat suasana terhadap pendengarnya.
Unsur Cerita
                Sinrili adalah suatu bentuk seni sastra yang sangat diminati dan digemari oaleh masyarakatnya sangatlah jelas, oleh karena penampilan dan penyajian lagu, susunan kata dalam kalimat yang berirama untuk mendapat simpati dan perhatian. Lagu yang puitis dan mengalun serta menghanyutkan para pendengarnya, mengandung usaha penyajian suatu infromasi lewat suatu bentuk ceritera dan peristiwa.
                Sebagai suatu ungkapan seni yang dinikmati dalam penyajiannya. Yaitu suatu sumber nilai budaya, kalau dapat dikatakan sebagai suatu konsep, sumber perlambang suatu kehidupan.
                Sinrili dapat dianggap sebagai suatu manifestasi berfikir bagi orang Makassar Khususnya Gowa. Sebagai suatu etnis yang pada masa lampau pernah mempunyai masa kejayaan yang memuncak, sehingga mampu menghidupkan nilai-nilai budayayang tinggi, etika yang kuat hingga saat ini, norma- norma itu masih melekat dalam alur cerita Sinrili, mampu merespon bagi siapa saja yang mendengar, apa yang dikatakan dan dibawakan oleh sang penutur pasinrili.
Unsur Penutur (Pasinrili)
                Sinrili merupakan sumber nilai bagi orang makassar, dan nampak jelas dalam fungsinya sebagai sumber informasi yang baik, dan dapan mempengaruhi masyarakatnya. Akan tetapi sebagai bentuk hiburan, sekaligus sebagai sumber informasi, akan mendapat tantangan dimasa mendatang. Seorang penutur (Pasinrili) kalau tidak pintar menata kembali materi-materi yang dibawakan, baik penampilan isi maupun penampilan secara jasmani, maka akan tersisihkan dari masyarakatnya, yakni dengan masuknya hibura-hiburan yang datang dari luar. Dalam hal ini penutur (Pasinrili), harus mampu menata kembali, kalau perlu tidak hanya mempergunakan pembawa ceritera, tidak hanya pasinrili merangkap pemusik namun harus membuat suatu orkestrai dan komposisi vocal akurat, namun juga tidak meninggalkan akarnya.
Penutur Merangkap Pemusik
                Unsur lain yang sangat mendukung penampilan seorang pasinrili adalah unsur musik (Kobbi). Penuturan yang baik, lagu yang menarik, serta mimic yang dibawakan oleh sang penutur (Pasinrili) akan lebih menarik lagi jika musik atau gesekan keso’-keso’ yang dimainkan oleh sang pasinrili, mengalun dalam irama yang menghanyutkan seirama cerita dan lagu (kelong) yang dimainkan.
                Penyajian seorang pasinrili, di tuntun kemampuan yang baik menggunakan bahasa sastera makassar, irama lagu (kelong makassar), pribahasa (paruntu’ kana), dongeng (Rupama), pesan petuah-petuah (Pasang), harus dikuasai agar mampu membawa para penonton kearah alam cerita yang disinrilikkan.
Jenis-jenis Sinrili
                Perkkembangan dan perjalanan Sinrili memang banyak yang menceritakan tentang hubuangan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan merupakan media penyampaian berita pada masyarakat dan pada pemerintah. Dengan sinrili yang dibumbuhi dengan cerita yang menarik, masyarakat pendengar akan tertarik menyimak isi dan kandungan serta maksud dari sinrili ini.
Sinrili terbagi atas ;
1.       Tentang cinta misalnya sinrili Ibaso Imalarangang bergelar Datu Museng.
2.       Tentang cinta Ijamila Daeng Makanang dengan Ibaso Anakkodaya.
3.       Tentang perjuangan misalnya Kappala’ Tallung Batua.
4.       Tentang perjuangan sinrili Perang Makassar

5.       Tentang Agama misalnya sinrili Syekh Yusuf Al- Mahasin Hidayatullah Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassary Tuanta Salamaka.

Minggu, 25 Maret 2018

SENI DAN AGAMA

Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Seni merupakan ciptaan dari segala hal karena keindahannya orang akan senang untuk melihat ataupun mendengarkannya. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah,  apa pun jenis keindahan itu. Juga dalam Ensiklopedi Indonesia kata Seni diartikan sebagai sebuah ciptaan atau hasil karya dari tangan seseorang yang memeiliki nilai keindahan sehingga akan menimbulkan perasaan emosional yang positif bagi para penikmatnya. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Di sisi lain, Alqur’an memperkenalkan agama yang lurus sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
Maka, tetapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah (atas)  fitrah Alah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Al-Rum [30]:  30)
Adalah merupakan satu hal yang mustahil, bila Allah yang menganugerahkan manusia potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukankah Islam adalah agama fitrah? Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya, dan yang mendukung kesuciannya ditopangnya.
Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Kalaupun Demikian. Islam Pasti mendukung kesenian selama penampilan lahirnya mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.
Islam dapat menerima semua hasil karya manusia selama sejalan dengan pandangan Islam menyangkut wujud alam raya ini. Namun demikian wajar dipertanyakan bagaimana sikap satu masyarakat dengan kreasi seninya yang tidak sejalan dengsan budaya masyarakatnya?
Dalam konteks ini, perlu digarisbawahi bahwa Al-Quran memerintahkan kaum Muslim untuk menegakkan kebajikan, memerintahkan perbuatan makruf dan mencegah perbuatan munkar.
Makruf merupakan budaya masyarakat sejalan dengan nilai-nilai agama, sedangkan munkar adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan budaya masyarakat.

Dari sini, setiap Muslim hendaknya memelihara nilai-nilai budaya yang makruf dan sejalan dengan ajaran agama, dan ini akan mengantarkan mereka untuk memelihara hasil seni budaya setiap masyarakat. Seandainya pengaruh seni itu buruk, apalagi yang negatifdapat merusak adat-istiadat serta kreasi seni dari satu masyarakat, maka kaum Muslim di daerah itu harus tampil mempertahankan makruf yang diakui oleh masyarakatnya, serta membendung setiap usaha dari mana pun datangnyayang dapat merongrong makruf tersebut. Bukankah Alqur’an memerintahkan untuk menegakkan makruf.
Al-Quran sangat menghargai segala kreasi manusia, termasuk kreasi manusia yang lahir dari penghayatan rasa manusia terhadap seluruh wujud ini, selama kreasi tersebut sejalan dengan fitrah kesucian jiwa manusia.(Quraish Shihab, Wawasan Alqur’an). Interpretasi seni budaya ketika direfleksikan dalam karya masyarakat pada gilirannya akan menjadi bagian dari adat istiadat dan agama. Karena itu, penggalian nilai-nilai seni budaya dapat mengungkap berbagai segi kearifan lokal.
Seni dalam ritual Agama yang selama ini berlangsung di Indonesia, tentu mempunyai keragaman atau variasi yang berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Selain itu, seni tersebut juga ada yang bertahan sebagai suatu yang makruf dan karena itu pantas untuk dipertahankan, dan mungkin juga ada di antara seni yang berkembang di masyarakat itu terketegori munkar yang perlu dikririsi dan diperbaiki.

Kata budaya diambil dari  bahasa Sansekerta yaitu “Buddayah”, yang kemudian dalam bentuk jamaknya adalah budi dan daya. Kata budi diartikan sebagai akal, pikiran, nalar sedangkan daya berarti usaha, upaya, Ikhtiar. Adapunseni asal mulanya merupakan proses yang dilakukan manusia dan oleh karena itu menjadi sinonim dari ilmu dan melalui perkembangannya, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni tidak bisa diukur dengan parameter apapun, hal tersebut hanya bisa dijelaskan pada setiap individu dengan parameter masing-masing.

Berikut ini beberapa pengertian seni dan budaya menurut pada ahli dibidangnya. Menurut : 

M. Thoyobi mengemukakan “Seni budaya merupakan penjelmaan rasa seni yang sudah membudaya, yang termasuk dalam aspek kebudayaan, sudah dapat dirasakan oleh orang banyak dalam rentang perjalanan sejarah peradaban manusia.”

Sedangkan Sartono Kartodirdjo berpendapat “Seni budaya merupakan sistem yang koheren karena seni budaya dapat menjalankan komunikasi efektif, antara lain dengan melalui satu bagian saja dapat menunjukkan keseluruhannya.”

Berbeda dengan pendapat Harry Sulastianto, “Seni budaya merupakan suatu keahlian mengekspresikan ide-ide dan pemikiran estetika, termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi pandangan akan benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah sehingga menciptakan peradaban yang lebih maju.”

Lalu terakhir menurut, Ida Bagus Putu Perwita “Seni budaya merupakan penunjang sarana upacara adat.”

Secara umum seni dibedakan menurut indra penserapannya yaitu seni audio, seni visual, dan seni audio-visual.

Seni audio adalah seni yang diserap melalui indra pendengaran. Misalnya: seni musik atau suara, drama radio, puisi di radio dan lain-lain.

Seni visual adalah seni yang diserap melalui indra penglihatan. Umumnya dikenal dengan sebutan seni rupa.

Seni audio-visual adalah seni yang sekaligus diserap oleh indra pendengaran dengan indra penglihatan. Misalnya : seni tari, drama/theater, film dan lain-lain.

Disamping itu ada lagi seni lain yang tidak ditekankan pada jenis indra penserapannya yaitu seni sastra. Yang termasuk dalam seni sastra adalah seni yang berbentuk prosa seperti roman, novel, cerpen, dan lain-lain. Dan seni yang berbentuk puisi seperti syair, pantun, gurindam, dan puisi-puisi dalam bentuk bebas lainnya. Ciri umum dari prosa adalah deskripsi keadaan atau imajinasi secara mendetail. Sedangkan ciri umum dari puisi adalah ungkapan inti atau hakiki dari suatu pengalaman maupun imajinasi estetis.

Untuk lebih mengenal perihal tentang batasan-batasan dari masing-masing seni ini, dapat dikemukakan beberapa pengenalan umum tentang aneka seni yang dimaksud diantaranya sebagai berikut :

1. Seni Rupa
Seni rupa adalah suatu wujud karya manusia yang mengandung unsur keindahan. Keindahannya diserap dengan indra penglihatan seperti : seni lukis, seni pahat, seni patung, seni grafis, seni lingkungan (environmental art), seni instalasi, seni pertunjukkan (performing art), seni peristiwa (happening art) dan sebagainya. Rasa senang ditimbulkan karena adanya keterpaduan dari unsur-unsur bentuk dari karya tersebut seperti aneka warnanya, selang-seling garis, aneka bentuk bidang-bidangnya, kemiripan bentuk objek yang dilukiskannya dengan lukisannya, aspek tematik yang diungkapkannya, keunikannya, teksturnya, dan lain-lain. Sedangkan keindahan dalam pengertian sederhananya adalah sesuatu yang memberikan rasa senang tanpa pamrih pada orang yang melihatnya. Kesenangan yang ditimbulkannya muncul serta merta karena keindahan karya itu sendiri, bukan karena ada kepentingan lain yang membuatnya merasa senang.

2. Seni Musik
Seni musik atau seni suara adalah seni yang diserap melalui indra pendengaran. Rangkaian bunyi yang didengar dapat memberikan rasa senang dan rasa puas bagi yang mendengarnya karena adanya keserasian susunan dari rangkaian tangga nada bunyi-bunyi tersebut.Secara garis besar ada dua jenis musik yaitu musik vokal dan musik instrumental. Musik vokal adalah musik yang hanya mengandalkan suara manusia saja, sedangkan musik instrumental adalah musik yang diperoleh dari memainkan alat-alat musik.

3. Seni Tari
Seni tari adalah seni yang diserap melalui indra penglihatan. Tetapi kekhususannya adalah keindahan yang dinikmati pada gerakan-gerakan tubuh, terutama gerakan kaki dan tangan, dengan ritme-ritme teratur, biasanya mengikuti irama musik. Seni tari juga tidak terlepas dari seni rupa karena gerak-gerak yang diperlihatkan diserap dengan indra penglihatan.

4. Seni Drama/Theater
Seni drama/theater adalah seni peran atau lakon yang umumnya dimainkan di atas panggung. Seni ini dinikmati sekaligus dengan indra penglihatan dan indra pendengaran. Dalam ungkapan lain seni drama disebut juga dengan seni theater (panggung). Secara umum merupakan gambaran sebuah peristiwa duniawi atau imajinasi yang dihadirkan kembali diatas panggung. Keindahan seni drama terletak pada ketepatan alur cerita yang diperankan oleh para pemain diatas panggung.
Saini KM dalam bukunya peristiwa theater (1996), menuliskan seni theater adalah seni dunia ambang, yaitu ambang untuk menoleh kepada yang indrawi dari pengalaman sehari-hari dan menoleh juga kepada dunia nilai.

5. Seni Sastra
Seni sastra adalah seni yang dikemukakan melalui susunan rangkaian bahasa baik lisan maupun tulisan yang dapat menimbulkan rasa senang tanpa pamrih bagi orang yang membacanya. Secara garis besar seni sastra dapat dikelompokkan kedalam dua kategori besar yaitu prosa dan puisi. Prosa adalah seni sastra yang berusaha mendeskripsikan keadaan, keinginan, atau imajinasi secara mendetail. Sedangkan puisi adalah seni yang cenderung menyederhanakan deskripsi dengan menangkap inti permasalahan yang ingin diungkapkan.

Mengutip pendapat Alexander Smith (1835 : 366), Sutrisno (1999 : 132) dalam bukunya Kisi-Kisi Estetika menulis : beda pokok antara prosa dan puisi. Prosa adalah bahasa akal budi si seniman, sedangkan puisi adalah bahasa dari perasaan. Dalam prosa seniman mengkomunikasikan pengertian akan hal-hal indrawi atau pikiran, sedangkan dalam puisi seniman mengungkapkan bagaimana hal-hal itu menerpa, menyentuh perasaan kita. Termasuk kedalam kategori prosa adalah karya sastra yang berbentuk novel, cerita bersambung, cerita pendek, esai-esai yang mengemukakan kritik dan pemikiran-pemikiran budaya. Sedangkan yang termasuk dalam kategori puisi adalah pantun, syair, dan puisi-puisi lain dalam berbagai bentuknya.

Minggu, 04 Maret 2018


Macam - Macam Atau jenis Badik




1. Badik Raja



Badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat disana menemukan sebuah Badik Raja yang sudah jadi, Badik ini bilahnya agak – agak besar ukurannya 20-25 cm, menurut Rusli atau lebih akrab disapa Dg. Culli, ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh arung atau dikalangan bangsawan-bangsawan dikerajaan Bone.





2. Badik Gecong

Badik lagecong, kenapa disebut Lagecong...????

Ada yang mengatakan karena si penempa atau panre besi (empu) yang pertama membuat badik model atau lacak tersebut ialah La Gecong itu sendiri (namanya), yang kedua diambil dari bahasa Bugis Gecong atau Geco’, yang bisa diartikan sekali Geco’ (Sentuh) bisa langsung mati. Badik bugis satu ini dikenal sebagai badik perang, banyak orang mencarinya karna sangat begitu terkenal dengan mosonya (racunnya) dan ada juga sebagian dari orang yang percaya bahwa kegiatan dalam suatu Duet ketika kita memegang atau memakai badik Gecong walau kita sudah berdarah kita masih melakukan perlawanan dalam bahasa Makassar di katakan “Puli”, banyak orang percaya bahwa semua alat perang akan tunduk pada badik gecong tersebut.
Sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus ”wallahu alam” panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, bentuknya lebih pipih, tipis tapi kuat.







3. Badik Luwu


Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik ini senantiasa diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini. Dan badik dengan jenis ini mungkin lebih digemari atau di cari – cari oleh para kolektir juga pencinta Pusaka, sebagian besar berdalih karena bahan yang di gunakan Badik jenis ini memiliki bahan yang berkualitas serta bahan meteorid yang banyak digunakannya. Juga sebagian berdalih karena nilai jualnya juga lebih lumayan dibanding Badik jenis lain.



4. Badik Lompo Battang

Badik lompo Battang, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada jg yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar). badik jenis ini adalah badik yang memiliki bentuk yang berbeda dengan model badik yang lain. Dalam kategori Badik Makassar ada beberapa jenis model atau Laca'. Ada Laca' Taeng, Panjarungang, Campaga, De'de' batu dll. Dari penamaan Laca' biasanya diambil dari nama kampung masing. konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam











5. Jambia


Badik jenis ini adalah jenis Badik yang berasal dari Sulawesi Barat yang menjadi sala satu senjata khas masyarakat Mandar atau salah satu Suku besar dari dari 4 Suku di Sulawesi Selatan sebelum memisahkan diri dan menjadi provinsi Sendiri yaitu Sulawesi Barat. Bentuk atau laca' badik jenis ini tak jauh beda dengan model badik luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabukku tedong (tunduk kerbau) bilahnya lurus dan membungkuk ke depan. Model badik ini juga sangat mirip dengan badik Toasi dan hampir tak ada perbedaan nya jika di simak sekilas. Dalam masyarakat Mandar, sebagian orang memiliki atau memakai Badik itu sesuai dengan kegunaannya atau sebagaimana fungsinya.


Senjata tradisional Bugis selain Kawali, ada yang disebut Bangkung, Gajang, dan Tappi, khususnya oleh orang-orang Bugis di Kabupaten Soppeng. Bangkung, bentuknya agak besar seperti parang atau kelewang (alameng) sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk menebas. Sedangkan Gajang karena bentuknya lebih kecil dari Bangkung, pemanfaatannya dengan cara menusuk atau menikam. Gajang kebanyakan digunakan sebagai senjata perang tempo dulu, beracun dan dapat mematikan seketika bagi yang terkena sejata ini sekalipun hanya tergores. Sedangkan Kawali yang juga berukuran seperti Gajang atau Tappi, tapi penggunaannya semata sebagai perisai diri. Sekalipun juga dapat digunakan sebagai senjata tajam, tapi pembuatan Kawali umumnya dengan maksud sebagai azimat yang diyakini sebagai penangkal segala marabahaya bagi pemiliknya. Tappi sejenis keris yang lebih banyak digunakan untuk keperluan asesori dalam upacara-upacara adat, atau pertanda status dan kedudukan bagi pemiliknya dalam kehidupan kemasyarakatan dan pemerintahan.
‘’Bangkung, Gajang, Kawali dan Tappi orang Bugis dahulu rata-rata terbuat dari batu meteor sehingga tak akan terdeteksi oleh alat sensor atau detektor logam masa kini. Buatan senjata tradisional Bugis sekarang umumnya menggunakan bahan baku besi asli,’’ jelas Putra ketika ditemui Minggu kemarin di Kota Makassar.

Senin, 26 Februari 2018

BADIK


Ewako mungkin adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar....
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar, yang juga menjadi petuah (pappasang). Takunjunga bangunturu’ Takugunciri gulingku Kualleanna Tallanga Natoalia. Artinya: Tidak begitu saja aku ikut angin buritan. Aku akan putar kemudiku. Lebih baik aku tenggelam daripada balik haluan.

Mungkin kata-kata EWAKO ini memang cocok dengan senjata khas Sulawesi Selatan yaitu "BADIK" seperti juga tertuang dalam sebuah bahasa orang tua dulu ataupun para pemberani “pantang Badik masuk ke sarung apabila tercabut tak mengenai darah”. Tapi kata-kata tersebut seolah tak lagi bermakna demikian seiring dengan zaman modernitas yang melembab di masyarakat luas.

Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah). 

Badik ini merupakan senjata khas tradisonal Makassar, Bugis dan Mandar yang berada dikepulauan Sulawesi. Ukurannya yang pendek dan mudah dibawa kemana mana.
Biasanya senjata adat yang bernama Badik ini dahulu sering dipakai oleh kalangan petani untuk melindungi dirinya dari binatang melata dan atau membunuh hewan hutan yang mengganggu tanamannya. Selain itu karena orang bugis gemar merantau maka penyematan badik dipinggangnya membuat dia merasa terlindungi.

Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banong (sarung badik). Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung)

Umumnya badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya siri' dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep siri' ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain dari pada itu ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk seseorang.

Karena dianggap begitu penting Badik/ Kawali dikalangan masyarakat Bugis dan Makassar membuat masyarakat berusaha mencari/ mendapatkan Badik yang mereka anggap istimewa baik dari segi pembuatan, bahan baku, pamor maupun sissi’ (Tuah) yang dipercaya dapat memberikan energi positif bagi siapa saja yang memiliki atau membawanya.

Badik/kawali yang bagus/istimewa dapat dilihat dari beberapa unsur, yakni: 

1.   1.  segi fisik Badik/kawali dapat dilihat:
         Bahan bakunya terbuat dari besi dan baja pilihan biasanya mengandung meteorit dan ringan. Wilayah Sulawesi Selatan sejak zaman dahulu terkenal dengan besi luwu yang berkualitas tinggi.
        Ragam pamor pada Badik/kawali lebih sederhana dari keris jawa biasanya terdiri dari jenis pamor kurrisi, lasoancale, parinring, bunga pejje, madaongase,kuribojo,tebajampu, timpalajja dan balopakki.

2.           2. Segi sisi’(tuah)/mistik antara lain:
                 Uleng puleng dan battu lappa; sebenarnya merupakan kandungan meteorit.
Bagi sebagian orang percaya Badik/kawali yang mempunyai ulengpuleng(kalau kecil)/battu lappa (kalau besar) akan membawa kebaikan pada pemiliknya baik berupa kemudakan rezki, karisma, maupun peningkatan karir. Posisi ulengpuleng/battulappa yang dicari adalah yang terletak dipunggung badik kira-kira berjarak 5 cm dari hulu/pangulu karena dipercaya akan memudahkan rezki dan karir. Badik/kawali yang memiliki ulengpuleng dan battulappa juga dipercaya dapat menghindari gangguan mahluk halus, sihir dan tolak bala.
        
          Mabelesse ; adalah retakan diatas punggung Badik/kawali sehingga seakan-akan Badik/kawali tersebut akan terbelah dua. Badik seperti ini dipercaya akan memudahkan rezki bagi pemiliknya sehingga banyak dicari oleh yang berprofesi sebagai pedagang.
       
           Sumpang buaja; sama seperti mabelesse Cuma retakannya pada bilah dekat ujung Badik/kawali. Tuahnya sama seperti mabelesse namun yang dicari yang letaknya pada bilah sebelah kanan dekat ujung Badik/kawali.
               
                    Ure tuo; adalah garis yang muncul pada bilah Badik/kawali. Yang dicari adalah yang tidak terputus-putus, kalau letaknya dipunggung Badik/kawali dan tidak terputus dari hulu sampai ujung tuahnya membuat sang pemilik disegani dan dituruti semua perkataannya, kalau melingkar ke atas dari bilah ke bilah sebelahnya seperti badik luwu sambang maka tuahnya untuk melindungi pemiliknya dari malapetaka dan kalau turun ke baja maka untuk memudahkan rezki.
         
                       Tolongeng; adalah lubang pada punggung Badik/kawali yang tembus ke bawah terletak dekat hulu/pangulu sehingga kalau dilihat seakan seperti teropong. Pada zaman dahulu sebelum berangkat perang biasanya panglima perang meneropong pasukannya melalui Badik/kawali tolongeng.
       
             Sippa’sikadong; adalah retakan pada tengah bilah Badik/kawali dari punggung Badik/kawali. Tuahnya adalah membuat pemiliknya disenangi oleh siapa saja yang melihatnya. Pada zaman dahulu apabila ada seseorang akan melamar gadis, maka utusan dari laki-laki akan membawa Badik/kawali sippa’sikadong yang bertujuan agar memudahkan lamarannya diterima pihak perempuan. Saya memiliki badik semacam ini, bentuk ukiran nya sangat indah ditambah lagi punggung dari badik ini bagaikan terpisah dari bagian kiri dan kanan.

                  Pamussa’; adalah upaya memperkuat daya magis Badik/kawali yang diletakan dalam hulu/pangulu Badik/kawali. Biasanya dengan menggunakan bahan-bahan tertentu tergantung akan digunakan untuk apa Badik/kawali yang akan di beri pamussa.
         
             Pangulu; di kalangan masyarakat bugis Bone berkembang suatu keyakinan akan kemampuan yang dimiliki sebagian orang yang mampu membuat pihak lawan tidak mampu mencabut Badik/kawali ketika akan digunakan, ilmu ini dikenal dengan istilah pakuraga/pabinrung. Pangulu yang caredo (terbelah/atau memiliki mata) secara alami dipercaya mampu mengatasi orang yang memiliki ilmu tersebut.

Sinrili

SINRILI                 Sinrili adalah suatu bentuk kesenian tutur yang sangat populer di kalangan orang Makassar, yang di maksud disin...